Pagi ini semesta mulai berani menampakkan diri pada embun lewat sela-sela daun, mentari masih malu-malu menunjukan rupa, sementara terik tak sabar menunjukan jiwanya. Jakarta, tempat sejuta umat mengukir cerita, rasanya banyak hal menarik yang telah aku lewati di sini, suaranya masih terdengar sama tiap kali aku membuka mata, di sudut sana ia memberi catatan penting tentang buku manis yang menyimpan skenario unik di setiap bait. Ia masih tersenyum tipis menyapa orang-orang disuatu desa, mencari terbitan-terbitan baru untuk dibagikan kepada mereka agar bisa belajar menuntun agak tak hanya bisa dituntun. Katanya: setiap detikmu adalah milik orang lain, maka jadikan ragamu sebagai milik mereka yang hidup dalam harapan di luar sana. Ia terus berjalan kemana-suka, memasuki bilik jingga yang semakin keunguan sepanjang waktu, tak hanya itu, warna-lain masih membuatmu semakin mengagumkan dan berbeda. Penjelajahan kita sangat jauh, perjalan kita masih panjang dan akan selalu ada petualan...