Postingan

Menampilkan postingan dengan label Short Story

KEYRA DAN IBU CIPTAANNYA

Pukul satu malam Keira selalu melakukan ritual rutin. Sepanjang hari ia menghabiskan waktunya untuk tidur, makan tanpa beranjak dari rumahnya. Kira-kira kehidupan tanpa memoar itulah yang dijalani Keyra selama dua minggu belakangan. “Aku suka hidupku bebapa hari ini, menghabiskan waktu, berlama lama menikmati hening sambil meghirup udara kosong diruangan. Sesungguhnya aku lebih suka lagi menjalani hidup tanpa   kehidupan: tenang, damai, tanpa paksaan, tanpa memikirkan banyak pertimbangan. Di sudut kamar depan jendela dan disamping rak buku-buku, itulah tempat kesukaanku untuk membiasakan diri belajar manerima hal-hal yang tidak bisa aku terima. Terkadang ketika aku tidak mengerti, aku menyangkal ketidaktahuanku untuk mencari-cari, entah untuk menemukan hal-hal konyol atau sekadar mengintai sesuatu yang tidak pernah aku ketahui. Akupun tertawa, namun bukan dikarnakan oleh sesuatu yang lucu, tidak, sungguh terkadang bukan karena itu. Aku menertawakan dalam-dalam tentang kea...

LELAKI PATAH HATI DAN BUKU

Aku percaya pada ucapan semesta bahwa setelah hujan akan datang pelangi dan aku pun mempercayai buku, di dalamnya tercipta paragraf-paragraf baru setelah titik. Hal itulah yang membuatku mengerti bahwa jatuh hati tak selamanya menyenangkan. Yang paling menyakitkan didunia ini bukan ketika tuan diabaikan atau dilupakan. Melainkan ketika tuan diberikan sebuah pertanyaan tanpa jawaban, sementara tuan sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskan : kemudian pergi. Ini perkara mudah (sebenarnya), tuan hanya cukup bilang dan berterus terang, : maka semua akan selesai. Jemariku berbicara dalam sebuah antologi kisah milik seorang sastrawan yang kerapkali dianggap sebagai wanita, mataku terbujur kaku memahami kata demi kata dan meyakini kalimat yang ia tulis. Tentang matari, tentang bumi dan seisi langit juga tentang perempuan dalam senja. Nampaknya, aku yang terlalu berangan tentang dongeng di negeri langit dan membayangkan akan ada gadis yang menanti selendan...

ALETRA

Aku sudah melewati gurun, mendaki gunung, menyeberangi sungai, laut, dan berputar pada gang-gang setiap harinya, ku telusuri setiap jalan tanpa memutus kapan harus berlabuh tanpa mengenal redup maupun terik, terkadang aku berjalan   tak jarang pula aku berlari-lari ringan untuk memastikan kejadian-kejadian apa yang akan aku temukan di ujung jalan. Kuputar ingatanku satu tahun kebelakang, sesuatu yang sama pun dapat terlihat beda karena setiap dari kita terlahir dari benih-benih yang berbeda. Terlebih ketika aku menjalani beda pada satu diagonal untuk mencapai misi yang sama, mas. Di sana aku mengenalmu satu tahun yang lalu dipertengahan tahun, awal bulan kelahiranku. Pelayan itu pun datang mengantarkan secangkir susu dan sepiring roti bakar manis, yang semenarik mungkin diatas meja untuk dinikmati. Awalnya hanya coba-coba, memilah banyak menu lainnya, akupun   hanyut di dalam aroma dan rasa, ku pilih satu menu paling ciamik dan aku jatuh   di setiap sajiannya....