Postingan

Sebuah Titik Balik Vol.3

Dia masih mengagumkan seperti pertama kali aku  mengenalnya, seluruh tubuhku kembali berdistraksi menatapnya, senyumnya masih sama seperti dulu, mata sipit dan rambut rapi dengan sedikit balutan poni membuatnya sedikit terlihat lebih dewasa dibandingkan masa kanak-kanak dulu. Ia pun tumbuh menjadi sosok yang semakin memberi arti bagi sesama. Ia bilang, tak ada yang lebih menakjubkan selain menyaksikan orang-orang berjuang meraih harapannya. Dari situ kita bisa belajar banyak, bahwa semakin sulit maka akan semakin dihargai, tapi, apakah hanya penghargaan saja yang diinginkan? tentu saja tidak, melainkan keberadaan kita ditengah-tengah mereka, mungkin lewat pikiran atau bisa jadi dalam kehadiran. Akupun kembali teringat pada ucapan seorang filsuf Prancis bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaam seseorang sendiri. Terhitung mundur sejak ia bilang ingin melangkah lebih jauh lagi melewati fase memantaskan diri untuk menjadi sesuatu yang tidak biasa-biasa saja....

Sebuah Titik Balik Vol.2

Pagi ini semesta mulai berani menampakkan diri pada embun lewat sela-sela daun, mentari masih malu-malu menunjukan rupa, sementara terik tak sabar menunjukan jiwanya. Jakarta, tempat sejuta umat mengukir cerita, rasanya banyak hal menarik yang telah aku lewati di sini, suaranya masih terdengar sama tiap kali aku membuka mata, di sudut sana ia memberi catatan penting tentang buku manis yang menyimpan skenario unik di setiap bait. Ia masih tersenyum tipis menyapa orang-orang disuatu desa, mencari terbitan-terbitan baru untuk dibagikan kepada mereka agar bisa belajar menuntun agak tak hanya bisa dituntun. Katanya: setiap detikmu adalah milik orang lain, maka jadikan ragamu sebagai milik mereka yang  hidup dalam harapan di luar sana. Ia terus berjalan kemana-suka, memasuki bilik jingga yang semakin keunguan sepanjang waktu, tak hanya itu, warna-lain masih membuatmu semakin mengagumkan dan berbeda. Penjelajahan kita sangat jauh, perjalan kita masih panjang dan akan selalu ada petualan...

Sebuah Titik Balik

Kali ini tak ada hariku dengan yang lain, di hembus embun memancar tetes di sela-sela daun yang tak jatuh ke tanah. Kau di sampingku, kita bercerita tentang kicauan burung, deburan ombak dan lambaian pinus yang bergerak magis menggatikan perbincangan manis dalam senyummu.   Melihatmu tertawa sejenak menyuarakan pilu yang hilang seketika, tatapan mata memuai memenuhi seisi kepala dan ingin kembali mengantarku kembali duduk disampingmu. Berdua saja, hanya kita bertutur disetiap bisik-bisik nyata dunia. Mereka membawa kita dalam sansekerta yang hanya kita yang tau, melagukan kebersamaan yang diharap untuk selamanya. Bawa aku ke sana, menjemput semesta yang tertinggal dijiwamu. Aku tak ingin lupa pulang, karena dia yang hilang hanya ia yang tak ingin kembali, tapi tidak denganku. Pertama, aku jatuh cinta pada mata, menghempas segala ragu yang tumbuh dan mati kemarin dulu. Lalu kau hadir dengan jutaan cerita, mengajakku melawan batas dunia bersama. Kita meyakinkan diri dan melawan ...

ALUN-ALUN BAHASA

Matanya menaklukan pekat dalam diam yang menggantukan seribu suara dalam hening. Senyumnya membawa arus ketepian sampai aku lupa bahwa ini ruang baru kedap bahasa. Namun tubuhnya menjabarkan banyak kata-kata, membuat kita bercerita lebih jauh dari selembar kertas putih yang sedang asik ditulis oleh pemiliknya. Ada banyak hal yang bisa kita sampaikan, mungkin tentang pasir di pantai yang selalu basah pada ombak yang datang dan hilang atau mungkin tentang gunung dan tanjakannya tidak pernah sama. Berkali-kali kita coba berdiskusi pada rintik, tapi hujan selalu datang dan meninggalkan pelangi setelahnya. Bukankah memang sebaiknya begitu? Sehingga kita tidak usah terlalu lama larut pada cuaca yang tidak begitu baik untuk dilalui, lebih-lebih tenggelam diantara genangan air sisa-sisa hujan yang pergi begitu saja. Kita hanyut dalam kebisingan hening untuk menyuarakan seribu makna-makna yang sempat dituturkan. Kita menunggu senja datang tapi kita lengah dalam gerimis, lantas ba...

Menjadi Sepasang Kaki

Kalau kau hendak berjalan jauh, bawalah doaku hari ini. Ia akan menemanimu kemanapun kau singgah. Tempuhlah jarak keyakinan hingga menemukan titik terjauh yang kau bisa. Maka, jadilah sepasang kaki untuk menopang segala tubuh yang jatuh sampai benar-benar piawai berlari. Jangan pernah ragu, karena keraguan hanyalah milik ia yang tidak percaya pada kemerdekaan dalam dirinya. --Kay- @galeriaksara

Meninggilah Untuk Membumi - Riska Yuvista

“Ketika kita tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah sesorang yang berbeda. Seseorang yang mempunyai keunikan dan potensi yang kuat untuk mengembangan diri”. Saya selalu percaya bahwa setiap orang dilahirkan ke dunia satu paket dengan keterbatasan dan kelebihannya. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama dalam segala hal, serta memiliki tujuan hidup masing-masing yang sering kali kita sebut dengan mimpi. Entah itu datangnya dari dalam diri sendiri maupin terinspirasi dari orang lain, apapun itu bentuknya dan asal-usulnya yang pasti semuanya hadir melalui sebuah proses. Di dalam hidup ini, saya ingin sekali menebarkan peran positif untuk orang banyak dan memberikan kebermanfaatan bagi sesama. Bagi saya, membuat orang lain menjadi lebih baik adalah kebahagiaan yang sesungguhnya, terutama ketika melihat mama dan keluarga tersenyum bangga. TENTANG RISKA Hallo! Perkenalkan, saya Riska Yuvista lahir di Bandar Lampung, 15 Juli 1997. Saya merupakan mahasiswa Program Studi Sast...

KEPOMPONG

Hidup ini ibarat daun dan kita adalah kepompong, dua bagian yang bergantung satu sama lain. Kepompong rekat melekat sepanjang hayat untuk bertahan pada ranting dan dahannya. Ketika ia singgah, daunlah temannya. Melindungi dirinya dari terik, menutupi dari goncangan angin, menopang saat hujan dan menghangatkan ketika malam.   Ia memang sendiri, tapi jiwanya terasa ramai, sebab sejatinya didunia ini kita tak akan pernah merasa benar-benar kesepian ketika hati penuh kedamaian dan keikhlasan. Sebuah metamorfosa dalam dirinya terus berlanjut, menghantarkannya pada perubahan demi perubahan, cangkangnya mulai terbuka, satu-persatu kulit yang memeluknya pun mengelupas. Ya, setengah bagian dari dirinya hilang, ia tidak lagi dibedong hangat, bahkan separuh tubuhnya mulai belajar membaur dengan alam, sementara bagian yang lain masih terperangkap lekat tidak bergerak.   Ia mulai bertanya-tanya, ia bercerita pada daun tentang sebuah peristiwa yang dialaminya, ia menangis dan berkat...