Postingan

KEYRA DAN IBU CIPTAANNYA

Pukul satu malam Keira selalu melakukan ritual rutin. Sepanjang hari ia menghabiskan waktunya untuk tidur, makan tanpa beranjak dari rumahnya. Kira-kira kehidupan tanpa memoar itulah yang dijalani Keyra selama dua minggu belakangan. “Aku suka hidupku bebapa hari ini, menghabiskan waktu, berlama lama menikmati hening sambil meghirup udara kosong diruangan. Sesungguhnya aku lebih suka lagi menjalani hidup tanpa   kehidupan: tenang, damai, tanpa paksaan, tanpa memikirkan banyak pertimbangan. Di sudut kamar depan jendela dan disamping rak buku-buku, itulah tempat kesukaanku untuk membiasakan diri belajar manerima hal-hal yang tidak bisa aku terima. Terkadang ketika aku tidak mengerti, aku menyangkal ketidaktahuanku untuk mencari-cari, entah untuk menemukan hal-hal konyol atau sekadar mengintai sesuatu yang tidak pernah aku ketahui. Akupun tertawa, namun bukan dikarnakan oleh sesuatu yang lucu, tidak, sungguh terkadang bukan karena itu. Aku menertawakan dalam-dalam tentang kea...

Tanda Mata

Kita sama-sama tahu  bahwa diantara kita berbatas satu pulau  pada tubuh gunung yang congkak Kita percaya,  bersama laut ikan-ikan bisa hidup dan tumbuh mandiri Kita baru saja mengadobsi anak-anak tangga  dan berusaha menaikinya  pada detik-detik kesenjangan yang lalu  Sampai sekarang kita berusaha mengerti  sesuatu yang terlintas ditengah pelayaran Sambil menepi hingga mengarungi perbatasan  di kaki samudra dan kedalamannya. --Kay-

Sebuah Percakapan

Kau tidak lagi menafsirkan tentang daun-daun yang jatuh berserakan Mendengarkan cerita gagak bersama celotehan ranting yang tumbang, tidak juga menggunjingkan ombak yang menderai pasir dan surut di musim-musim yang panjang. Berita hari ini, telah sampai padamu juga Tentang kota tua dan sepeda cantik di dalamnya, tentang gaun merah membentang dan patung-patung yang dipenggal. Kita kembali mengingat pada banyak peristiwa, mengabadikan apa-apa yang tidak harus di ingat­­   tidak juga dilupakan. Suatu saat kau akan mengenang ruang bersama aliran air di dataran tinggi. Menyaksikan kembali gerimis deras di tempat dingin bersama genangan tanah dan rumput-rumput basah. Kau akan kembali mengingat api-api yang hidup di semesta; laju kereta; desakan senja dan bangku kosong di taman tempat dimana kita akan tahu pengasingan sesungguhnya   : Suatu Ketika. --Kay- Rawamangun, 08 Juni 2017

Subjektivitas

Gambar
                                                                                                                                                Setelah tumbuh dan melewati beberapa musim, rupanya ia tidak bertahan tumbuh ditempatnya dan layu. Ternyata memang benar, bunga ...

Senja Yang Hilang

Ku analogikan pribahasa dibalik senja dan udara Mareka punya isyarat yang sama pada remahan waktu  yang sisa di ufuk barat suatu sore Di sana kita torehkan sejumlah percakapan-percakapan manis  antara bulan Desember dan Januari. Terasa muda dan belia, sedini itu kita saling bercengkramat Di balik punggungmu pula aku bercerita  tentang sesuatu yang berbeda dan hal-hal lain  yang kita ciptakan pada musim penghujan. Diantara tanah dan air pula kita menapaki jejak-jejak tinggi. Memang benar rasanya:  Setidaknya kita masih perlu mata dan hati  untuk melihat petang dan sedikit menutup mata juga membuka rasa. Kuasingkan tawamu dalam perun, menggeliat batin bersama gigil dan korespondensi ketabuan kau Semoga   kita masih punya waktu dan ruang  dalam sisi manis bersama malam juga udara  untuk menunggu senja-senja berikutnya Tentang kamu dan senja : pada tahun-tahun yang lain. Februari 2016

TENTANG SEMUA ORANG DAN KAMU

Ia sudah kembali dari pengembaraanya yang jauh dengan membawa peluru dan senapan yang tertancap didada. Bersama peron-peron dan penjaga jalan yang lugu ia mengisahkan hatur dan tawa manis dijalan-jalan ibukota. Seperti katamu kau harus hidup juga tumbuh bersama dan atau tanpa adanya matahari, kau harus tersenyum dengan ada atau tidaknya hal yang menyenangkan dan kau pun harus berjuang dalam dan atau diluar kemampuan, semampumu saja.   Kesampingkanlah hal-hal sedih tanpa mengabaikannya, siramilah tahan, taburkan pupuk dan rawatlah sebisamu. Jangan paksakan yang tak bisa hidup untuk berbunga, jangan petik yang merekah dan jangan tebang yang menjulang. Hiduplah dengan baik dan jadilah yang terbaik. Suatu saat nanti, hadirlah dalam kesederhanaan yang menarik, bertahanlah dalam ketidaksepadanan dan rumuskan beberapa petimbangan. Mari kita ciptakan keselarasan hidup oranglain di suatu desa yang teduh untuk diabadikan dalam ruang kata milik kita sambil mendiskusikan beberapa hal y...